Evaluasi Psikologi & Karakter Kandidat

Kofuku Recruitment Screening System (WPPAI)

๐Ÿ“Œ Petunjuk Pengisian:

Jawablah semua pertanyaan di bawah dengan serius, jujur, teliti, dan fokus. Pilihlah jawaban yang paling menggambarkan kebiasaan, prinsip, atau respons spontan Anda terhadap situasi sehari-hari. Tidak ada jawaban benar atau salah, jawablah berdasarkan apa yang paling sesuai dengan diri Anda yang sebenarnya.

1 = Sangat Tidak Setuju 2 = Tidak Setuju 3 = Ragu-ragu 4 = Setuju 5 = Sangat Setuju

Bagian 1: Preferensi Aktivitas & Lingkungan Kerja

1. Begitu menandatangani kesepakatan kontrak kerja, saya merasa wajib menuntaskannya terlepas dari dinamika tantangan yang ada.

2. Kehadiran debu di sudut ruangan membuat saya terganggu dan ingin segera mengambil lap untuk membersihkannya.

3. Saya merasa terdorong untuk mencoba kembali setelah gagal berinvestasi, karena yakin usaha berikutnya akan menutup kerugian.

4. Saya merasakan kepuasan tersendiri jika berhasil membujuk seseorang untuk ikut membenci orang yang tidak saya sukai.

5. Mengetahui bahwa pendapatan saya menjadi penopang keluarga membuat saya bisa menoleransi tekanan pekerjaan sekeras apa pun tanpa banyak mengeluh.

6. Mengerjakan tugas yang polanya persis sama selama seminggu penuh membuat saya merasa jenuh dan ingin mencari kegiatan lain.

7. Saya meyakini bahwa tingkah laku saya di tempat umum akan selalu menjadi cerminan dari asal-usul keluarga saya.

8. Mengetahui rincian kondisi organ tubuh melalui pemeriksaan kesehatan (Medical Check-Up) adalah hal penting bagi saya.

9. Saya memegang prinsip mutlak untuk selalu mengembalikan obeng atau perkakas ke tempat semula setelah dipakai.

10. Berkonsultasi dengan pihak yang lebih ahli sewaktu merasa beban pikiran sudah terlalu berat merupakan langkah logis.

11. Saya lebih memilih menabung sedikit demi sedikit dengan hasil pasti ketimbang mencoba melipatgandakannya dalam semalam.

12. Saya berkomitmen untuk senantiasa disiplin, taat pada aturan kerja, serta menjaga nama baik bangsa Indonesia di tempat kerja.

13. Membangun suasana yang tenang di ruangan kerja jauh lebih esensial daripada bersikeras mempertahankan kebenaran argumen saya.

14. Suasana pedesaan atau area kerja yang sangat sunyi dan gelap selepas pukul 7 malam merupakan irama yang dapat saya nikmati.

15. Saya sering mendadak merasa sangat mengantuk dan tertidur sejenak sewaktu duduk di dalam kendaraan pada siang hari.

16. Saya lebih menyukai mengirim pesan secara privat (japri) kepada atasan ketimbang membahas isu kerja di grup divisi.

17. Menyetir atau berkendara melewati rute panjang yang sama setiap hari memberikan ritme ketenangan tersendiri bagi saya.

18. Saya tahu persis topik sensitif apa yang bisa memicu dua teman berdebat, dan kadang saya memunculkannya dalam obrolan.

19. Memulai hidup baru di tempat yang jauh sering kali menjadi opsi paling rasional sewaktu beban utang sudah menumpuk.

20. Saya kerap menyetujui pernyataan orang lain tentang hal yang tidak pernah terjadi demi menjaga kelancaran obrolan.

21. Menambahkan sedikit bumbu tambahan dalam cerita agar suasana mengobrol menjadi lebih seru adalah trik komunikasi yang wajar.

22. Memasuki akhir pekan, saya sering merasa tidak memiliki tenaga emosional yang tersisa bahkan untuk sekadar berbicara dengan keluarga.

23. Kegagalan saya dalam menyelesaikan target sering kali disebabkan oleh lingkungan yang tidak mendukung, bukan karena kurangnya usaha.

24. Saya setuju bahwa sebagian konflik hanya bisa benar-benar tuntas jika salah satu pihak merasa takut pada pihak lainnya.

25. Memasuki area tempat kerja membuat saya secara otomatis dapat mengalihkan fokus dari beban persoalan pribadi di rumah.

26. Menggunakan pakaian tebal berlapis-lapis di udara beku sama sekali tidak akan menghalangi kecepatan gerakan tangan saya dalam bekerja.

27. Pernyataan-pernyataan yang saya pilih dalam kuesioner ini seratus persen mencerminkan pola pikir saya yang sebenarnya.

28. Saya sering secara sukarela memungut sampah yang tercecer di area kerja walau itu bukan tanggung jawab saya.

29. Saya secara berkala menginformasikan tahapan pengerjaan tugas saya kepada rekan tim tanpa menunggu mereka bertanya.

30. Perasaan saya kadang sangat bersemangat dan meluap-luap, namun tak lama kemudian berubah menjadi sangat lelah dan hampa.

31. Aturan kantor yang terasa tidak rasional sebaiknya dikesampingkan saja agar penyelesaian tugas menjadi lebih cepat.

32. Apabila proyek tim gagal, pihak yang mengusulkan ide pertama kali adalah orang yang harus menanggung semua risikonya.

33. Jika mendapat teguran dengan suara tinggi, saya tetap fokus pada poin kesalahannya, bukan pada ekspresi kemarahan orang tersebut.

34. Saya selalu membawa handphone ke mana pun saya bergerak di dalam rumah, termasuk saat ke kamar mandi.

35. Amanah yang diberikan instansi kepada saya merupakan tanggung jawab moral yang wajib saya bayar dengan kinerja terbaik.

36. Dapat dimaklumi jika kita membatalkan kontrak kerja secara sepihak bila mendapat penawaran yang lebih menguntungkan.

Bagian 2: Pandangan Terhadap Diri & Lingkungan

37. Mengambil keputusan-keputusan yang berisiko membuat ritme hidup saya terasa lebih menantang dan tidak membosankan.

38. Saya suka mengamati perubahan-perubahan kecil pada tanaman atau hewan peliharaan dari hari ke hari.

39. Saya lebih mudah menemukan kelemahan suatu kebijakan kantor ketimbang memahami sisi positif dari kebijakan tersebut.

40. Melakukan simulasi gerakan kerja yang sama puluhan kali sampai otot hafal merupakan metode latihan yang sangat logis.

41. Saya akan berkonsultasi dengan rekan senior bila ragu memilih di antara dua metode kerja yang tampak sama baiknya.

42. Teguran tajam dari pimpinan kerap membuat saya tidak sabar menunggu esok hari untuk membuktikan bahwa saya sanggup membenahinya.

43. Merawat orang lain dengan menyuapkan makanan serta mendengarkan cerita yang diulang-ulang merupakan hal yang biasa bagi saya.

44. Bila teman saya mendadak emosi, itu biasanya terjadi karena mereka terlalu sensitif menanggapi ucapan saya.

45. Terlalu banyak pesan masuk di grup komunikasi sering kali membuat saya mematikan notifikasi dan mengabaikannya sama sekali.

46. Fisik saya tetap bertenaga walaupun jadwal jam tidur saya bergeser antara siang dan malam setiap minggunya.

47. Mengambil inisiatif sendiri memang baik, tetapi bertanya untuk meminta konfirmasi atasan sebelum bertindak jauh lebih aman dan profesional.

48. Menyembunyikan masalah teknis operasional jauh lebih baik daripada melaporkannya namun memicu kepanikan bersama.

49. Mengurus tanah basah, lumpur, atau bau pupuk kandang adalah hal biasa yang sudah menjadi bagian hidup sehari-hari.

50. Sebelum bepergian jauh, saya secara proaktif mengecek kondisi kendaraan dan mencari jalan alternatif di peta.

51. Menjalankan tugas proyek fisik yang seragam setiap hari dalam jangka waktu berbulan-bulan dapat saya nikmati.

52. Wajar jika saya mengharapkan pelayanan atau fasilitas yang sedikit lebih baik dari orang lain, mengingat tingkat dedikasi saya.

53. Saya lebih suka menyerahkan keputusan-keputusan besar kepada orang lain agar saya terhindar dari tanggung jawab jika terjadi kesalahan.

54. Saya menyadari tidak tahu segalanya, namun saya sangat yakin memiliki kapasitas untuk mempelajari keterampilan apa pun yang diminta.

55. Saya selalu berikhtiar membangun hubungan kerja yang harmonis serta saling menghormati dengan pimpinan dan rekan kerja.

56. Ketika saya membeli barang mahal dan ternyata rusak, saya merasa harus segera membeli lagi yang lebih bagus untuk membuktikan sesuatu.

57. Jika saya merasa jenuh dengan aturan yang kaku, saya akan mencari teman yang sepemikiran untuk melonggarkan aturan tersebut bersama-sama.

58. Saya cenderung mengingat wajah dan nama orang yang pernah memberikan teguran keras kepada saya, bahkan setelah waktu berlalu lama.

59. Menyembunyikan sedikit kenyataan merupakan strategi komunikasi yang dibutuhkan untuk menjaga perasaan atasan.

60. Mencari lowongan pekerjaan baru secara aktif saat sedang istirahat di kantor adalah hal yang lumrah untuk kemajuan karier.

61. Membicarakan mengenai peluang atau trik mendapatkan imbal hasil yang cepat sangat menarik minat dan perhatian saya.

62. Mata saya secara otomatis akan tertuju pada satu kabel yang salah warna dalam susunan yang rumit.

63. Saat ada orang yang menyerobot antrean saya, emosi saya langsung memuncak dan timbul keinginan untuk membalasnya.

64. Bila melihat rekan mengambil inventaris kantor secara diam-diam, saya memilih tidak ikut campur karena itu urusan mereka.

65. Sebelum bepergian meninggalkan rumah, saya secara konsisten mengecek perlengkapan dan dokumen penting minimal tiga kali.

66. Aturan kerja kadang dibuat terlalu kaku, sehingga kita perlu sedikit menyesuaikannya sendiri demi efisiensi.

67. Saya merasa orang yang berani menghalangi tujuan saya pantas mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan sebagai pelajaran.

68. Terdapat perasaan hampa yang kerap muncul secara tiba-tiba di tengah-tengah padatnya kesibukan harian saya.

69. Menatap langit-langit kamar dalam kegelapan selama jam-jam sebelum tertidur adalah hal yang biasa bagi saya.

70. Setiap mendapat pujian atas hasil kerja, saya merasa orang tersebut belum mengetahui kelemahan saya yang sebenarnya.

71. Menyimpan ponsel pribadi di dalam loker selama jam kerja agar tetap fokus adalah hal yang sangat mudah saya jalankan.

72. Ketika merasa sangat emosi atau kewalahan, memukul meja atau melempar benda membuat beban pikiran saya terasa berkurang.

73. Saya bisa duduk diam selama berjam-jam memasukkan benang ke jarum atau merakit komponen-komponen yang sangat kecil.

74. Meskipun rekan-rekan sekelompok santai mengobrol di jam kerja, saya tetap memilih menyelesaikan tugas sesuai target pribadi.

75. Mengangkat galon air atau memindahkan perabot rumah tangga adalah jenis pekerjaan yang terasa ringan bagi saya.

76. Apabila timbul ketidaksepakatan dengan manajemen, menggalang rekan untuk mogok kerja adalah langkah paling efektif.

77. Saya memiliki ingatan yang sangat kuat mengenai rincian kesalahan orang yang pernah menyinggung perasaan saya.

78. Belakangan ini saya merasa bahwa cita-cita masa depan saya sudah tidak ada gunanya lagi untuk diperjuangkan.

79. Menahan pandangan pribadi agar rapat dapat tuntas tanpa perdebatan panjang merupakan tindakan yang bijaksana.

80. Jika saya diperlakukan tidak adil, saya akan memastikan orang tersebut mendengarkan kemarahan saya dengan volume suara yang keras.

Bagian 3: Pandangan Tentang Kerjasama & Strategi Kerja

81. Saya sanggup mempertahankan sikap tenang saat melayani orang yang kerap meluapkan kemarahan tanpa alasan jelas.

82. Saya tidak ragu memakai sebagian uang belanja bulanan bila melihat ada kesempatan yang sangat menguntungkan hari itu.

83. Saya memahami dengan tepat asupan nutrisi atau minuman yang dibutuhkan tubuh saat sinyal kelelahan mulai muncul.

84. Saya tidak merasa pusing jika harus fokus membaca atau bekerja di dalam kendaraan yang sedang berguncang.

85. Melihat foto keluarga sewaktu bekerja di kejauhan membuat energi saya meluap dan makin bersemangat untuk berjuang.

86. Suara bising mesin pemotong yang sangat nyaring tidak akan membuat saya kaget ataupun kehilangan fokus kerja.

87. Ketika melihat seseorang menumpahkan air secara tidak sengaja, saya secara spontan mengambil tisu untuk membantu.

88. Saya selalu memastikan perut saya terisi dan saya cukup minum sebelum memulai pekerjaan fisik yang berat.

89. Ketika sedang menunggu, saya sering meremas jemari atau merasakan ketegangan pada otot leher tanpa disadari.

90. Saya sering memeriksa apakah pintu rumah sudah terkunci atau kompor sudah padam berulang kali sebelum merasa tenang.

91. Jika tak sengaja menjatuhkan alat hingga tergores sedikit, saya akan langsung melaporkannya ketimbang berpura-pura tidak tahu.

92. Saya bisa merasakan ketegangan yang terjadi di antara dua orang hanya dari cara mereka saling terdiam di satu ruangan.

93. Tuntas mengerjakan tugas dengan standar asal lulus jauh lebih cerdas ketimbang menguras tenaga demi hasil sempurna.

94. Konsep kesetiaan pada satu perusahaan selama bertahun-tahun adalah budaya masa lalu yang sudah tidak relevan di dunia modern.

95. Melakukan rutinitas fisik yang sama persis setiap hari membuat saya merasa lebih tenang dan terkendali.

96. Membaca panduan teknis secara menyeluruh sebelum mengoperasikan perlengkapan baru adalah tindakan rasional bagi saya.

97. Tinggal di daerah pinggiran atau pegunungan yang jauh dari mal atau keramaian kota adalah kehidupan yang ideal bagi saya.

98. Begitu menyelesaikan bagian awal tugas, saya langsung menemui atasan untuk melaporkan bahwa tahap tersebut telah tuntas.

99. Kecemasan memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi besok kerap kali membuat saya sulit tidur hingga dini hari.

100. Saya sering menghabiskan waktu membayangkan bagaimana rasanya mendapat rezeki nomplok dalam jumlah besar secara tiba-tiba.

101. Walaupun sedang hari libur, saya tetap menjaga ketenangan dan berbusana sopan di lingkungan tempat tinggal umum.

102. Saya sering berpindah minat atau hobi karena cepat merasa bosan pada hal yang baru saja saya pelajari.

103. Saya sering mendapati orang yang kurang berkompeten justru memperoleh posisi dan keberuntungan yang lebih baik dari saya.

104. Mengucapkan salam pagi dengan suara yang jelas terdengar seisi ruangan merupakan kebiasaan yang memberi saya energi.

105. Pakaian yang basah atau aroma amis air bukanlah alasan yang masuk akal bagi saya untuk menghentikan pekerjaan.

106. Merespons orang asing yang bertanya di jalan dengan senyuman dan ramah adalah sikap spontan yang alami bagi saya.

107. Saya selalu menyiapkan buku catatan dan pena setiap kali dipanggil atasan atau senior untuk mendengarkan pengarahan.

108. Melihat promo, taruhan ringan, atau kesempatan terbatas sering kali membuat saya tergiur untuk segera ikut mencobanya.

109. Untuk memvalidasi bahwa saya membaca semua pertanyaan dengan teliti hingga akhir tanpa menggunakan mesin acak, saya akan memilih opsi "Setuju (4)" pada pernyataan ini.

110. Saya bersedia menerima sanksi atau potongan gaji jika saya terbukti merusak peralatan kerja akibat kelalaian saya sendiri.

111. Regulasi yang ketat justru memberikan rasa aman bagi saya karena tolok ukur kerja menjadi sangat jelas bagi semua.

112. Saya sangat meyakini bahwa keberhasilan finansial orang kaya sebagian besar dipengaruhi oleh faktor keberuntungan semata.

113. Saya sering menyesuaikan pendapat dan selera saya dengan siapa pun yang sedang bersama saya saat itu agar diterima.

114. Menghabiskan waktu seharian di tempat tidur sering kali terasa jauh lebih menarik daripada keluar rumah menemui orang.

115. Pada akhirnya, saya yakin bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar akan membantu kita kecuali diri kita sendiri.

116. Berada di lingkungan di mana saya tidak mengerti apa yang dibicarakan orang-orang membuat saya semakin terpacu untuk belajar kosakata baru setiap malam.

117. Saya selalu memastikan kepada pimpinan apakah masih ada tugas lain yang perlu dibantu sebelum saya bersiap untuk pulang.

118. Saya suka menyampaikan pesan dari satu orang ke orang lain hanya untuk melihat bagaimana reaksi mereka terhadap informasi tersebut.

119. Melihat mekanisme mesin yang rumit selalu memicu rasa penasaran saya untuk mempelajari cara kerjanya.

120. Perubahan jadwal atau rencana yang terjadi secara mendadak mampu merusak suasana hati saya sepanjang hari.

Bagian 4: Pengelolaan Risiko & Respon Emosional

121. Jika atasan tampak diam menatap layar komputernya, saya akan menunda pertanyaan walau hal itu cukup penting.

122. Memanfaatkan ketidaktahuan orang lain dalam bisnis atau pekerjaan adalah kenyataan yang harus diterima di dunia nyata.

123. Menjalani akibat yang sepadan atas kekeliruan sendiri merupakan hal yang wajar, profesional, dan semestinya dilakukan.

124. Menerima perintah kerja mendasar seperti menyapu lantai dari atasan yang usianya jauh lebih muda tidak melukai harga diri saya.

125. Saya dapat segera menyadari bila topik obrolan saya membuat kawan bicara canggung, walau wajah mereka tetap tersenum.

126. Suara dentuman atau kegaduhan mendadak sering membuat ingatan saya kembali pada peristiwa buruk di masa lalu.

127. Membahas kelemahan sistem manajemen kantor bersama rekan kerja merupakan cara terbaik kami meredakan stres.

128. Menyampaikan secara jujur jika ada hambatan operasional adalah kewajiban kerja yang tidak boleh ditutupi.

129. Bekerja dalam kondisi ruangan yang bising dan panas tidak merusak tingkat konsentrasi saya.

130. Saya memiliki kebiasaan mengalihkan pikiran yang sedang jengkel menjadi dorongan tenaga untuk merapikan ruangan atau bekerja lebih giat.

131. Saya jauh lebih menghargai proses perjuangan seseorang yang penuh keringat ketimbang orang yang sukses berkat bakat bawaan.

132. Saya senantiasa membaca suasana dan ekspresi orang-orang di ruangan sebelum memutuskan untuk melemparkan gurauan.

133. Saat tubuh saya sudah merasa kelelahan, saya sering menemukan "tenaga cadangan" yang berasal dari kekuatan pikiran saya sendiri.

134. Bertanya atau melaporkan kendala secara terbuka di forum grup membuat saya merasa seolah-olah saya sedang dihakimi.

135. Memisahkan label botol plastik, tutup botol, dan botolnya ke dalam tempat sampah yang berbeda adalah rutinitas yang sangat masuk akal bagi saya.

136. Saya sering diberitahu bahwa nada bicara atau lelucon saya tidak pada tempatnya, meskipun saya sendiri tidak mengerti kenapa.

137. Saya menyukai ketelitian dalam memastikan dimensi atau letak suatu barang tepat hingga ukuran milimeter.

138. Saya secara refleks merapikan kembali posisi kursi setelah rapat selesai, walau bukan saya yang mendudukinya tadi.

139. Saya merasa bahwa kehormatan serta harga diri saya merupakan hal mutlak yang wajib dihargai oleh orang di sekitar.

140. Saya kerap membeli barang yang tidak ada di daftar belanja hanya karena tertarik melihatnya dipajang dekat kasir.

Bagian 5: Adaptasi Sosial & Sistem Komunikasi

141. Saya secara teratur berolahraga ringan di waktu luang karena paham kelenturan tubuh sangat memengaruhi kestabilan suasana hati.

142. Sedikit gesekan atau konflik kadang dibutuhkan dalam tim agar anggota kelompok tidak bekerja terlalu pasif.

143. Menjalani sebuah proses sesuai prosedur lebih menenangkan pikiran daripada mencari jalan pintas yang berisiko di kemudian hari.

144. Kadang saya heran mengapa orang-orang di sekitar saya tidak mampu berpikir secepat dan secermat yang saya lakukan.

145. Mengikuti aturan pemilahan sampah yang terlalu rinci adalah hal yang merepotkan dan membuang waktu produktif saya.

146. Saya memiliki kebiasaan mencuci tangan dengan sabun berulang kali saat sedang berada di dapur.

147. Memeriksa detail tekstur dan kualitas warna pada bahan kayu atau material alam membutuhkan kesabaran yang saya miliki.

148. Saya terbiasa mencatat setiap pengeluaran finansial harian saya, mulai dari kebutuhan pokok hingga pembelian camilan.

149. Sewaktu alarm tanda bahaya berbunyi, refleks pertama saya adalah langsung mengikuti alur evakuasi tanpa berteriak panik.

150. Saya sering merasa beban kerja saya lebih berat dibanding teman seperjuangan lain meskipun kami mendapat gaji setara.

151. Saya sangat patuh pada jadwal transportasi dan senantiasa mengusahakan tiba di lokasi jauh sebelum waktunya.

152. Jika sudah mencoba dua kali dan tetap gagal, itu petunjuk bahwa saya tidak cocok dan sebaiknya mencari opsi lain yang lebih mudah.

153. Saya tidak keberatan jika ide saya tidak terpakai, selama seluruh anggota tim merasa nyaman dengan kesepakatan bersama.

154. Jika saya menyadari bahwa saya akan terlambat datang sekitar lima menit, saya akan mengirimkan pesan sejak saya masih berada di jalan.

155. Bila kesalahan teknis yang saya buat tidak berdampak langsung pada orang lain, tidak perlu ada orang yang mengetahuinya.

156. Saya memiliki jadwal rutin mengonsumsi obat tertentu secara teratur demi menjaga kestabilan fisik harian saya.

157. Adanya aroma oli, pelumas, atau bensin yang menempel di tangan sama sekali tidak mengganggu kenyamanan saya.

158. Capaian kerja tim yang rata-rata jauh lebih baik dan aman ketimbang satu orang menonjol sementara rekan lainnya tertinggal.

159. Saya sadar sepenuhnya bahwa kesalahan satu orang perantau seringkali membuat seluruh warga dari negaranya ikut dipandang buruk oleh penduduk lokal.

160. Kadang-kadang, tindakan fisik memang diperlukan untuk menyadarkan seseorang yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan kata-kata.

161. Merasa canggung atau melakukan kesalahan kecil akibat perbedaan budaya adalah proses adaptasi biasa yang akan cepat saya lalui.

162. Obrolan di grup umum sering terlalu ramai, sehingga saya lebih memilih berdiskusi secara privat dengan teman dekat.

163. Terdapat beberapa pengeluaran atau arus keuangan saya yang sengaja tidak pernah saya beritahukan kepada keluarga.

164. Bertahan hidup dan bekerja di satu tempat atau perusahaan yang sama selama lebih dari tiga tahun adalah hal yang sangat wajar bagi saya.

165. Saya selalu memastikan lampu dan kran air dimatikan sewaktu tidak terpakai, walau biayanya ditanggung kantor.

166. Saya mampu mengulangi gerakan tangan yang sama (seperti memotong atau melipat) dengan tempo yang sangat cepat selama berjam-jam.

167. Mengabaikan rasa kantuk yang berat dan kaki pegal untuk menyelesaikan pekerjaan yang sangat mendesak adalah kebiasaan yang bisa saya lakukan.

168. Saya selalu memerlukan waktu ekstra untuk menata napas kembali setelah menaiki tangga setinggi dua lantai.

169. Saya percaya bahwa orang yang lebih lama bekerja di suatu lingkungan memiliki kebijaksanaan practical yang patut didengarkan tanpa protest.

170. Berada dalam lorong atau ruangan tertutup yang sempit selama berjam-jam tidak menimbulkan rasa panik bagi saya.

Bagian 6: Resiliensi, Fokus, & Komitmen Jangka Panjang

171. Saya lebih menikmati pekerjaan fisik di area luar ruangan yang terpapar sinar matahari dibanding berdiam di ruang ber-AC.

172. Saya lebih suka menyerahkan keputusan-keputusan besar kepada orang lain agar saya terhindar dari tanggung jawab jika terjadi kesalahan.

173. Demi menyelesaikannya masalah kesalahpahaman, kadang saya perlu membuat orang lain merasa ingatan mereka yang keliru.

174. Pekerjaan apa pun yang berada di luar kesepakatan tertulis awal tidak akan saya kerjakan, bagaimanapun kondisi daruratnya.

175. Saya lebih memilih terlihat kurang pintar dengan bertanya hal yang sama tiga kali daripada terlihat pintar namun berujung melakukan kesalahan teknis.

176. Saya suka menceritakan prestasi-prestasi masa lalu secara rinci agar orang lain mengetahui nilai diri saya yang sebenarnya.

177. Saya hanya akan bersedia melakukan tugas tambahan di luar jadwal jika kompensasi uangnya langsung diberikan pada hari itu juga.

178. Jika pengawas tidak ada di tempat, saya bisa menyelesaikan pekerjaan dengan gaya saya sendiri yang lebih santai.

179. Saya sering merasa sangat bersalah seharian penuh jika saya makan sedikit lebih banyak dari porsi yang saya rencanakan.

180. Tiba tepat waktu bermakna saya sudah siap bekerja di posisi saya setidaknya 10 menit sebelum jam kerja resmi dimulai.

181. Saya selalu ingin segera memeriksa media sosial setiap kali mendengar terdapat kabar atau tren yang sedang hangat.

182. Saya senang mengamati dan meniru kebiasaan-kebiasaan kecil penduduk lokal ketika saya berada di lingkungan yang baru.

183. Mengharapkan sedikit toleransi keterlambatan keesokan harinya setelah saya melakukan lembur adalah kompromi yang wajar.

184. Menjaga reputasi baik perusahaan merupakan tugas divisi Humas, bukan kewajiban saya sebagai staf operasional.

185. Mengingatkan tim mengenai kelemahan rekan kerja lain adalah langkah saya agar semua orang lebih waspada.

186. Saya memiliki keyakinan penuh bahwa seberat apa pun tantangan hari ini, esok hari selalu menyediakan peluang untuk perbaikan.

187. Jika rekan di sebelah saya mengerjakan tugasnya dengan lambat, saya akan menawarkan diri mengambil sebagian tugasnya tanpa menyuruhnya bekerja lebih cepat.

188. Mengorbankan kepentingan satu atau dua orang untuk keberhasilan sebuah proyek besar adalah harga yang pantas dibayar.

189. Saya sudah mempersiapkan mental bahwa beban kerja fisik di luar negeri akan jauh lebih berat dibanding bayangan awal saya.

190. Saat menghadapi perlakuan yang tidak adil, saya lebih memilih mengendalikan napas dan menyelesaikannya secara kepala dingin.

191. Saya sanggup mengingat lebih dari tiga pengarahan atau pesanan sekaligus secara tepat tanpa perlu mencatatnya.

192. Menaati rambu lalu lintas pejalan kaki di jalanan yang benar-benar kosong pada tengah malam merupakan standar disiplin saya.

193. Saya merasa gelisah jika rutinitas pengecekan keselamatan saya ada yang terlewat, sekecil apapun itu.

194. Mayoritas orang yang memberi kritik pada saya biasanya hanya karena mereka tidak memiliki kapasitas memahami maksud saya.

195. Tarikan napas panjang dan minum segelas air hangat sering kali sudah cukup buat saya menenangkan kepanikan secara mandiri.

196. Saya akan menegur kawan yang menyeberang sebelum lampu penyeberangan hijau, walau lalu lintas sedang sangat sepi.

197. Saya sering mencoba metode kerja yang menurut saya lebih rapi atau efisien meskipun tidak ada yang menyuruh saya melakukannya.

198. Mengulang proses yang sama dari awal setelah pekerjaan hampir selesai adalah hal yang sangat menguras energi hingga saya rasanya enggan melanjutkannya.

199. Mempelajari titik lemah dari sebuah aturan sistem adalah sebuah tantangan intelektual yang menyenangkan bagi saya.

200. Apabila letak barang di meja kerja saya bergeser sedikit saja, saya merasa terdorong untuk segera mengembalikannya.

201. Pikiran saya sering kali melayang ke mana-mana ketika ada orang yang menyampaikan arahan atau instruksi yang panjang.

202. Saya merasa lebih nyaman dan tenang berada di lingkungan yang dikelilingi pepohonan daripada gedung-gedung tinggi.